Minggu, 06 Maret 2011

Aku Bukan Musyafir (Bagian I)


by Mukhtarodin Widodo
Tak kuhitung berapa tapak telah kulangkahkan kakiku sore ini. Suara yang sering kudengar di kampungku dulu telah menggema dan memanggilku agar aku segera menghentikan langkah. Jujur suara itu selalu memaksaku untuk mengenang betapa nyaman dan damainya di sana. Aku ingin segera mencium telapak hangat ibuku. Terbenamlah mentari hari ini dan selamat datang malam, kusambut engkau dengan basuhan di wajahku untuk menghadap pada-Nya, aku bersyukur karena Dia masih mengizinkanku untuk menghadapkan wajahku sekali lagi. Setelah pertemuan indah itu, kulanjutkan langkahku, kuikat tali sepatuku erat - erat, aku berdiri dan ku hela nafas untuk mengawali perjalanan ini kembali.
Awan merah tembaga masih tampak di ufuk barat dan lampu - lampu kota mulai melukis jalanan di malam ini. Aku terus berjalan, aku ingin segera mengetuk pintu yang selalu aku rindukan untuk mengetuknya. Tiga hari sudah aku berjalan tapi kulihat masih teramat jauh jarak yang harus aku tempuh. Kuraba kantung celanaku, hanya menyisakan rupiah sepuluh lembar seribuan.
"Ah, tak apalah." gumamku dalam hati.




Nampak seorang kakek dengan seragam warna jingganya yang telah kusam terlunturkan oleh keringat, mengayuh gerobak sampah. Dengan nafas yang kadang tersengal dan keriput di keningnya, ia mendatangi guguran - guguran daun dan serakan plastik di tepian jalan ini. Kuhentikan langkahku sejenak untuk memperhatikan ketulusannya. Mungkin karena terlalu dalam aku melamun, suara kakek yang agak gemetar itu mengejutkanku. Ia bertanya kemanakah aku akan menuju. Lalu kuceritakan perjalananku ini, dia tersenyum lalu ia meminta izin untuk bercerita tentang kehidupannya yang lebih dari setengah abad telah banyak memakan asam garam. Sungguh ini adalah bekal yang sangat berharga bagiku.Cukuplah kalimat terakhir dari kakek itu yang kutuliskan dalam ceritaku kali ini.-to be continued-

0 komentar:

Posting Komentar

Bisnis Online